AIR PANAS BOBA

Flores menjadi salah satu destinasi wisata favorit saya. Selain karena faktor murahnya, kebetulan tempat usaha saya juga disini, jadi saya bisa sesekali menyempatkan diri untuk refreshing sambil kerja. Disamping itu memang sudah niat saya pribadi untuk lebih mengenalkan Pulau Flores kepada masyarakat Indonesia. 

Pulau Flores dalam Bahasa Portugis artinya bunga. Seperti namanya, pulau ini memang sesungguhnya indah seperti bunga. Salah satu bukti keindahaanya ada di Pulau Komodo yang sudah lebih dahulu terkenal. Pulau Komodo ini sekarang sudah jadi wisata alternatif setelah Bali dan Lombok. Tapi bukan Komodo yang akan saya bahas kali ini.
  
Tempat wisata ini letaknya di Kabupetn Ngada atau mungkin lebih familiar di telinga kita yaitu Bajawa yang merupakan ibu kotanya. Kata Bajawa sekarang sangat terkenal sebagai penghasil kopi dengan kualitas ekpor yang punya cita rasa dan aroma yang khas. Bajawa berada di daerah yang tinggi dan dingin sehingga cocok untuk hidup dan berkembangnya tanaman kopi.

Nah di tengah dinginnya Bajawa itu, ada satu tempat yang cukup populer disini sebagai tujuan wisata, namanya Air Panas Soka atau lebih dikenal dengan nama Air Panas Boba. Letaknya ada disebelah selatan kota Bajawa tepatnya di Desa Boba, Kecamatan Golewa Selatan. 

Saya sudah berkali-kali mengunjungi tempat ini bersama keluarga. Apalagi lokasinya hanya berjarak  kurang lebih 25 km dari Desa Maukeli, Kecamatan Mauponggo, tempat usaha pertanian milik saya. Kalau dari Desa Maukeli waktu tempunya hanya 40 menit saja. Tapi disini saya akan share rute jalan dari kota Bajawa supaya lebih mudah dimengerti oleh para pembaca blog saya.

Untuk menuju ke sini ada dua jalur, bisa melalui aimere atau bisa melalui jalan raya Bajawa-Maumbawa. Nah saya akan menggunakan jalur yang terkahir. Perjalanan dimulai dari kota Bajawa menuju ke Mataloko, ada pertigaan belok kanan menuju ke Maumbawa. Sampai disini perjalanan akan melalui hutan yang agak lebat dengan sedikit rumah penduduk.

Sampai di jalan pertigaan Desa Roda, belok kanan. Nah disini kita akan disajikan pemandangan yang sangat indah. Hamparan sawah yang tertata rapi seperti membentuk tangga di sepanjang punggung perbukitan dengan pemandangan laut selatan yang berwarna biru. Setiap kali lewat sini saya selalu melambatkan laju kendaraan saya untuk dapat menikmati pemandangan yang indah ini.


Perjalanan akan dilanjutkan melalui pesisir pantai selatan menuju ke arah barat. Dibeberapa ruas jalan saya mendapati beberapa lubang bahkan ada sekitar 200 meter yang belum beraspal. Tapi secara umum jalannya masih tergolong bagus. Setelah menenpuh perjalanan kurang lebih 1 jam, akhirnya kami sampai juga di jalan masuk obyek wisata Air panas boba yang letaknya berada sisi kanan jalan raya.

Untuk masuk dikenakan tarif 3.000 untuk anak-anak dan 5.000 untuk dewasa. Cukup murah kan...! Setelah membayar kami pun tak sabar ingin melihat Air Panas Boba. Dari pintu masuk ke parkiran kira-kira jaraknya 150 meter. Setelah kendaraan diparkir, kami pun berjalan melewati sebuah sungai yang airnya kecil untuk menuju ke kolam air panas.


Kolam air panas ini terlihat masih alami. Dinding kolamnya tersusun dari batu-batu kali. Dari permukaan saya melihat warna air kolam ini berwarna biru muda. Sepintas terlihat di dalam air ada gelembung-gelembung yang menandakan air ini panas. Kolam ini terlihat sangat jernih karena air belerang yang berasal dari dalam tanah terus mengalir dan keluar ke sebelah bawah kolam menuju sungai yang tadi kami lewati.

Untuk orang yang tidak terbiasa dengan air panas, saya sarankan untuk mencoba sedikit demi sedikit bagian tubuh kita dicelupkan kedalam air. Saya merasakan memang air ini panas sekali. Tapi yang pasti setelah tubuh kita masuk seluruhnya dan terbiasa dengan panas airnya, wow...! rasanya sangat nikmat. Rasanya seperti ada yang memijat didalam air. Kedengarannya sih lebay, tapi silahkan saja coba sendiri.

Mandi di Air panas Boba cocoknya dimulai dari jam 5 sore. Tapi ada pula pengunjung yang baru datang jam 8 malam dan pulang pada pagi hari. Hanya sangat disayangkan, karena pengelolaannya yang masih tradisional sehingga fasilitas penerangannya tidak ada. Kami waktu itu berinisiatif membawa lampu emergensi dari rumah. Tapi justru karena inilah berendam sambil memandangi langit yang justru semakin terang menjadi lebih mengasikan.


Suasana saat itu sangat menyenangkan. Setelah kami berendam, kami istirahat sebentar sambil makan malam. Ada beberapa bekal makanan yang kami bawa dari rumah. Maklum ditempat ini belum terdapat warung atau sejenisnya. Api unggun yang dibuat oleh salah satu keluarga kami menambah kehangatan di malam itu.

Tak terasa waktu menunjukan pukul 11 malam. Ada beberapa keluarga yang sudah tidur dengan alas tikar di bebatuan yang ada di sekitar kolam. Sayapun ikut terlelap dalam kesunyian malam itu. Tepat pukul 4 pagi kami bangun lagi untuk kembali nyebur ke dalam air. Sebenarnya dijam inilah saat yang paling tepat untuk menikmati air panas ini. Ya istilahnya prime time-nya lah...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Kerbau dan Emas Dalam Pernikahan Adat : Cerita Dari Nagekeo

Jalan-jalan ke Perbatasan RI – Papua New Guinea

Melihat Danau Sentani Dari Bukit Teletubbies