Gua Maria Bitauni, Tempat Ziarah Bergaya Klasik



Saya melalui jalan yang lebih panjang ketika pulang dari Kabupaten Malaka pada Agustus 2016 lalu. Saya yang dipercayai sebagai sopir lebih memilih jalur utara melalui Halilulik. Jalan yang saya pilih memang lebih bagus dibandingkan melalui Kolbano, tapi memang waktu tempuhnya menjadi lebih lama. Melalui jalur  Kolbano waktu perjalanan sekitar 5 jam, sedangkan melalui jalur Halilulik memakan waktu 8 jam untuk sampai ke Kota Kupang.

Sebelum memasuki Kota Kefa, kami putuskan untuk singgah di Gua Maria Bitauni. Gua ini berjarak 34 km dari Kota Kefa ke arah Atambua. Gua ini menjadi tempat ziarah dan berdoa yang populer bagi umat Katolik di Keuskupan Atambua dan sekitarnya. 

Pohon-pohon yang terjaga dengan baik disekitar gua

Dulunya gua ini merupakan benteng batu tempat persembunyian bagi suku – suku ketika masih terjadi perang antar suku diwilayah Timor. Berdasarkan kisah sejarah, nama Bitauni bersasal dari kata nbi yang dalam bahasa Dawan yang berarti disini dan nataunon yang berarti bertahan, maka lahirlah kata bitauni yang berarti bertahan disini atau benteng pertahanan. Nama ini diberikan oleh para leluhur suku Aplasi yang merupakan suku tertua di Insana.

Seiring berjalannya waktu Gua ini ditemukan lagi oleh Pastor Petrus Noyen, SVD dan Pastor Arnoldus Verstralen, SVD. Sejak kedatangan kedua Misionaris asal Portugis tersebut Agama Katolik mulai berkembang di Insana.

Konon sebelum meninggalkan Bitauni kedua Pastor tersebut menitipkan sebuah Patung Bunda Maria yang terbuat dari kayu pada satu Keluarga untuk disimpan didalam Gua. Namum seiring perjalanan waktu, patung tersebut hilang dan tidak pernah ditemukan lagi. Diperkirakan patung tersebut hilang karena perdagangan barang antik.

Pada tahun 1920 datang lagi seorang Pastor bernama  Yohanes Smit, SVD. Dan sebelum meninggalkan Bitauni pada tahun 1936 Pastor tersebut menempatkan sebuah Patung Bunda Maria didalam Gua. Dan sampai sekarang patung tersebut masih tersimpan dan terpelihara dengan baik. Pada tahun 1970 – 1977 dilakukan pemugaran pelataran Gua Bitauni.

Tangga batu menuju puncak Bukit Bitauni


Untuk sampai ke Guanya kami harus melewati tangga yang panjang menuju puncak Bukit Biatuni. Total ada sebanyak 108 anak tangga yang harus kami lalui. Lumayan melelahkan apalagi kami yang sedang dalam perjalanan panjang. Tapi untungnya suasanya di sekitar gua lumayan sejuk karena ada banyak pohon yang terpelihara dengan baik disini.

Pelataran dan tangga yang bergaya klasik

Design tangga dan pelatarannya dibuat sederhana dengan menampilkan nuansa klasik yang menawan. Tersusun dari batu-batu alam yang disusun rapi membentuk punden berundak. Sesampainya di dalam gua saya melihat sebuah patung Bunda Maria dengan tinggi sekitar 2 meter. Terdapat pula beberapa tatakan lilin dan sebuah kursi kayu didekatnya. 

Mulut Gua Bitauni


Patung Bunda Maria di dalam gua

Karena ini sebenarnya merupakan gua alam, saya melihat banyak kelelawar yang sedang menggantung di langit-langit gua. Ada sebuah lubang di kecil di sebelah atas gua. Lubang ini menjadi pintu keluar masuknya kelelawar. Lubang ini juga menjadi satu-satunya sumber cahaya yang masuk ke dalam gua. Cahaya yang masuk melalui lubang sempit itu menampilkan kesan yang eksotis di dalam gua. Sesudah beristirahat dan menenagkan diri mulalailah kami berdoa dan bernyanyi bersama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Kerbau dan Emas Dalam Pernikahan Adat : Cerita Dari Nagekeo

Melihat Danau Sentani Dari Bukit Teletubbies

Kali Dosai