Ada Kerbau dan Emas Dalam Pernikahan Adat : Cerita Dari Nagekeo


Siang itu setelah semua persiapan selesai, kami tinggal menunggu kedatangan sang mempelai pria beserta rombongan keluarganya. Kabar yang saya dengar mereka akan datang menggunakan 4 mobil yang mengangkut orang dan 3 mobil yang mengangkut hantaran hewan. 

Mendengar yang terakhir itu saya semakin antusias menyaksikan momen yang langka ini. Inilah salah satu pengalaman saya mengikuti salah satu acara pernikahan adat Nagekeo yang disebut "tu ngawu" atau "antar belis" atau bahasa nasionalnya seserahan atau hantaran.

Menunggu biasanya menjadi hal yang paling saya tidak sukai, tapi ternyata tidak untuk kali ini. Saya memilih menyibukan diri di dapur bersama panitia pemasak daging. Asik ngobrol akhirnya kami menerima kabar bahwa rombongan telah tiba di Kayo, kampung tetangga bersebelahan dengan kampung kami. Mereka harus memarkirkan kendaraan mereka di kampung Kayo karena jalan menuju ke kampung kami, kampung Tiwa tidak bisa dilalui kendaraan.


Rombongan terlihat mulai masuk ke dalam kampung dengan rapi dan teratur. Seperti yang telah direncanakan sebelumnya, urutannya kira-kira sebagai berikut: seorang kepala suku atau jubir, wanita pembawa parang adat (topo bhuja), mempelai pria yang membawa bambu yang berisi "moke" (minuman keras khas flores), orang tua, beberapa wanita pembawa bingkisan, anggota keluarga, dan beberapa pria pembawa hewan belis. 


Saat itu sesuai penglihatan saya rincian yang mereka bawa adalah 4 kerbau, 4 kuda, 2 pasang anting emas, 4 sapi, 4 kambing, ayam, kelapa, pinang, sirih dan moke ukuran 2 drum jumbo. Untuk menggambarkan nilainya jika diuangkan kira-kira seperti ini rinciannya: 
  • 1 Kerbau Mosa = 15  juta
  • 3 ekor Kerbau x @10 juta= 30 juta
  • 4 ekor sapi x @8juta = 32 juta
  • 4 ekor kambing x @1,5juta = 6 juta
  • 2 Jumbo arak Moke x @1 juta = 2 juta
  • 2 parang adat x @1,5 juta = 3 juta
  • 2 pasang anting emas adat x @1,5 juta = 6 juta
  • Perlengkapan lainnya = 5 juta
  • Total = 99 juta
*Semua harga diatas saya ambil berdasarkan harga pasar

Angka ini belum termasuk biaya pesta pernikahan yang akan dibicarakan dalam acara ini. Ketika mendengar informasi ini saya hanya menggelengkan kepala dan tidak bisa berkata apa-apa. Apalagi ketika mereka mengatakan bahwa dulu nenek saya ketika dipinang oleh kakek belisnya 3 kali lipat dari acara ini.

Pernikahan adat Nagekeo memang dilaksanakan dengan persiapan yang panjang dan menelan biaya yang tidak sedikit. Baik keluarga pria maupun wanita cuma punya satu tujuan yaitu menjaga "waka" atau kebanggaan keluarga. Beberapa pasangan Nagekeo bahkan ada yang sudah hidup bersama beberapa tahun dan sudah memiliki anak tapi belum memiliki status pernikahan yang sah baik secara adat maupun agama. Hal ini dikarenakan mereka belum sanggup melaksanakan pernikahan adat.

Dalam beberapa kasus, nikah adat harus dilakukan terlebih dahulu baru dilaksanakan nikah agama. Namun ini sangat tergantung dari kenginan bersama dari keluarga besar dan orangtua. Tapi menurut pengamatan saya kearifan lokal ini yang menjadi pegangan yang pasti bagi pasangan terutama bagi sang wanita. Keberadaan sang wanita di keluarga pria akan dijunjung tinggi. Peran keluarga wanita atau yang disebut sebagai "moi mame" akan sangat dihormati.

Seorang wanita juga akan mendapat keuntungan seperti (untuk sesuatu yang tidak dikehendaki) misalnya sudah terjadi "mba" dan belum melaksanakan nikah adat, maka sang pria harus tinggal dan bersatu sementara di rumah keluarga wanita. Sang pria demi menjaga "waka" keluarga mau tidak mau harus melakukannya.

Inilah sebuah filosofi "waka" yang masih di pegang teguh oleh setiap orang Nagekeo. Menjaga nilai kebanggaan orang tua dan keluarga di atas segalanya. Sebuah fenomena yang sudah jarang terjadi dalam kehidupan yang lebih majemuk dan maju seperti di kota besar.


Kembali ke acara adat, beberapa perwakilan keluarga terlihat masuk ke dalam rumah utama bersama mempelai pria dan orang tua lalu melakukan perundingan singkat tentang apakah pihak keluarga perempuan menerima "topo bhuja" dan barang-barang bawaan yang mengikutinya.

Bila sudah sepakat, maka topo bhuja diterima, kemudian pihak perempuan membalas dengan kain khas Nagekeo (luka bai), pakaian untuk orang tua, tikar dan bantal, beras, kue adat "filu" dan kembang goyang serta hewan berupa babi. Sesudah itu kelompok kecil dalam rumah ini makan bersama yang disebut "ka peme".


Kalau sudah berlangsung "ka peme" sebenarnya pada saat itulah sahnya perkawinan adat karena sudah selesai proses “so to topo seli bhuja” dan terpenuhilah ungkapan adat “so nee topo woso seli nee bhuja negi” (ikrar perkawinan yang dipagari oleh parang adat). Dengan demikian perkawinan adat sah. Selanjutnya akan ada pembicaraan mengenai jadwal dan konsep pernikahan secara agama dan pesta pernikahannya.


Komentar

  1. Kearifan lokal yg harus di pertahankan, namun harus di sesuaikan dgn perkembangan jaman.... jgn sampai agama di letakan paling bawah stelah adat atw budaya, seharus Agama di atas segalanya.... smoga ada yg bisa mrubah yg ini sj. Salam kompak

    BalasHapus

Posting Komentar

Saran dan kritik adalah vitamin bagi jiwaku

Postingan populer dari blog ini

Melihat Danau Sentani Dari Bukit Teletubbies

Kali Dosai