Rekor Pribadi! Berkendara dari Bali Ke Flores Seorang Diri

Artikel ini menceritakan kisah perjalanan saya dari Pulau Bali sampai ke Pulau Flores seorang diri dengan membawa mobil melewati 3 provinsi, 4 pulau, 3 kali penyeberangan dengan feri, serta menyusuri berbagai tempat yang baru buat saya. Buat anda yang mempunyai rencana untuk berwisata ke Flores atau buat masyarakat Fleores dan NTT yang berencana memindahkan kendaraannya dari Jawa ke NTT, artikel ini patut anda baca.

Sebelum perjalanan, saya pergi ke bengkel untuk memastikan kondisi mobil saya dalam keadaan yang prima. Setelah itu saya siapkan semua berkas yang dibutuhkan selama perjalanan seperti STNK, KTP, SIM, semuanya asli dan fotocopy serta fotocopy BPKB yang telah dilegalisir oleh leasing (kendaraan kredit). Jika semuanya sudah siap, berarti tinggal satu persiapan yang paling penting yaitu persiapan fisik. Kita harus sehat dan fit untuk sebuah perjalanan yang panjang.

Perjalanan saya awali pada tgl 21 Mei 2015 jam 4 sore dari rumah saya yang berada di Denpasar barat. Setelah berdoa, saya mulai berkendara keluar Kota Denpasar melalui lampu merah Sanur lalu masuk ke jalan I Gusti Ngurah Rai menuju Pelabuhan Padang Bai. Perjalanan saya tempuh dalam waktu kira-kira 1 jam dengan 2 kali pemberhentian di minimarket dan pom bensin. Pukul 6 sore saya tiba di Pelabuhan Padang Bai dan langsung menuju ke loket tiket.

Loket tiket kendaraan Pelabuhan Padang Bai Bali

Harga tiket sesuai dengan ukuran mobil, karena mobil saya berjenis sedan maka saya harus membayar sebesar Rp. 895.000. Setelah membayar, saya langsung diarahkan petugas menuju ke kapal. Saya pakir di dek paling bawah, lalu mematikan mesin, mengunci pintu, membawa barang seperlunya dan naik ke dek paling atas untuk beristirahat.

Suasana dini hari di Pelabuhan Lembar Lombok

Tepat jam 22.30 saya tiba di Pelabuhan Lembar Lombok. Setelah keluar dari pelabuhan, saya lanjutkan perjalanan menuju Kota Mataram untuk makan malam. Selesai makan, saya lanjutkan lagi perjalanan menuju ke Pelabuhan Kayangan di timur Pulau Lombok. Sayangnya tidak banyak papan penunjuk jalan yang tersedia sehingga saya harus sesekali bertanya ke orang di sepanjang perjalanan.

Saya juga menggunakan fasilitas GPS (Global Positioning System) yang tersedia di notebook yang saya bawa. Sesekali saya berhenti di dekat kantor polisi untuk beristirahat menghilangkan rasa kantuk yang mendera. Setelah menempuh perjalanan selama 4 jam. Akhirnya saya sampai juga di Pelabuhan Kayangan.

Suasana pagi hari di Pelabuhan Kayangan


Suasana pelabuhan saat itu masih sepi, saya langsung menuju loket untuk membeli tiket menuju Pelabuhan Pototano Sumbawa seharga Rp. 466.000. Penyebrangan ditempuh dalam waktu 2,5 jam.

Pintu masuk Pelabuhan Pototano Sumbawa


Pukul 4.30 pagi saya tiba di Pelabuhan Pototano. Setelah keluar dari pelabuhan saya menuju ke sebuah minimarket tidak jauh dari situ untuk membeli bekal dan membersihkan diri. Saya melakukan sedikit olahraga kecil untuk menghilangkan ketegangan di otot kaki dan tangan. Destinasi saya selanjutnya adalah Pelabuhan Sape. Jarak dari Pelabuhan Pototano sampai Pelabuhan Sape adalah 391 km, 'yes man...so far so good..'.

Papan penunjuk jalan sekaligus menunjukan urutan kota untuk sampai ke Sape


Selesai berdoa, saya kembali berkendara menuju ke Sumbawa besar. Sekitar jam 9 saya tiba di Kota ini. Di sini saya langsung mencari warung untuk sarapan, membersihkan diri. Kebetulan saat itu hari minggu, saya sempatkan diri untuk beribadah di salah satu gereja di tengah kota. Selanjutnya saya kembali berkendara menuju ke Kota Bima.

Jalan yang saya tempuh lumayan bagus, kondisi jalan relatif sepi, banyak trek lurus dan melewati beberapa padang sabana. Kadang, ada beberapa hewan seperti sapi dan kambing yang tiba-tiba menyebrang jalan, jadi saya harus selalu berhati-hati. Tak terasa sudah 17 jam saya berkendara akhirnya saya tiba juga di Gapura Kota Bima. Didekat situ ada sebuah pantai, saya berhenti sejenak untuk merenggangkan kaki dan menikmati pemandangan. Inilah salah satu cara saya menikmati perjalanan.

Jam 5.30 sore perjalanan saya lanjutkan lagi menuju destinasi terakhir saya hari itu yaitu Pelabuhan Sape. Perjalanan menuju Sape sangat mendebarkan buat saya. Kondisi saat itu sudah gelap dengan penerangan jalan yang sangat minim. Saya melewati jalan yang memiliki banyak tikungan tajam dan tanjakan. Melewati beberapa hutan lebat, saya memacu kendaraan dalam tempo yang sedikit lambat.

Akhirnya jam 7.30 malam saya tiba di Sape. Kebetulan di dekat pintu pelabuhan ada beberapa hotel melati. Saya memilih salah satunya, lalu memesan kamar seharga Rp. 150.000. Saya lalu memberihkan diri, makan malam dan langsung beristirahat. Sungguh sangat melelahkan perjalanan hari ini, tapi saya sangat menikmatinya.

Gerbang masuk Pelabuhan Sape Sumbawa


Pagi hari saya bangun jam 5, lalu mempersiapkan diri. Saya juga menyiapkan beberapa berkas untuk proses pendaftaran. Saya lalu masuk ke pelabuhan dengan kendaraan saya, lalu mendatangi gedung administrasi yang berada di sebelah kiri pintu pelabuhan. Saya menyerahkan berkas-berkas kepada petugas.

Setelah proses administrasi selesai, saya diarahkan petugas untuk membeli tiket di loket yang berada di sisi kanan pintu pelabuhan. Harga tiket mobil beserta penumpang menuju Pelabuhan Labuhan Bajo sebesar Rp. 1.300.000. Saat itu pelabuhan lumayan ramai dengan kendaraan yang didominasi truk-truk besar.

Pelabuhan Sape melayani penyebrangan munuju ke Labuhan Bajo sebanyak 2 kali sehari yaitu jam 10 pagi dan jam 5 sore. Sambil menunggu waktu keberangkatan saya membeli nasi bungkus di warung tidak jauh dari loket pembelian tiket. Jam 9.30 saya sudah berada di dalam mobil bersiap masuk menuju kapal. Setelah mendapat arahan dari petugas, saya lalu mengendarai mobil perlahan masuk ke kapal dan parkir di dek bawah. Seperti biasa setelah mematikan mesin, mengunci pintu, membawa barang seperlunya, saya lalu bergegas menuju ke dek paling atas untuk beristirahat.

Hari sudah sore tepatnya jam 16.30 saya tiba di Pelabuhan Labuhan Bajo. Saya mengalami sedikit masalah sewaktu akan keluar dari kapal. Mobil saya yang berjenis sedan tersangkut di pintu palka kapal. Hal ini dikarenakan posisi kapal yang lebih rendah dari permukaan dermaga. Menurut petugas, air laut memang setiap sore pasti surut sehingga menyebabkan permukaan dermaga terlihat lebih tinggi.

Ini juga tips buat anda yang punya mobil sedan, sebaiknya pilihlah jadwal kapal yang jam 5 sore sehingga sampai di Labuhan pas air pasang supaya kejadian ini tidak terjadi. Setelah menggunakan bantuan kayu dan alas keset, akhirnya saya bisa keluar dari kapal tanpa 'lecet'.

Pelabuhan Sape Pulau Flores

Tgl 23 Mei 2015, setelah melewati perjalanan yang panjang dan mengalami beberapa rintangan, akhirnya saya tiba juga di Pulau Flores. Pulau eksotis yang akhir-akhir ini sedang naik daun, terutama setelah Sail Komodo 2014. Inilah pengalaman saya, semoga bermanfaat bagi anda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Danau Sentani Dari Bukit Teletubbies

Jalan-jalan ke Perbatasan RI – Papua New Guinea

Gua Maria Bitauni, Tempat Ziarah Bergaya Klasik