The Other Side Behind Senggigi


Pulau Lombok menjadi pendamping yang setia bagi pariwisata di Bali. Bahkan pulau yang termasuk dalam Propinsi NTB ini menunjukan tingkat kunjungan wisatawan yang naik terutama setelah pemerintah dengan rutin melengkapi infrastruktur pendukungnya. Ada banyak tujuan wisata yang bisa kita kunjungi di Pulau Lombok. 

Salah satu tempat wisata yang paling populer dan terkenal di Pulau Lombok adalah Pantai Senggigi. Pantai ini menjadi tujuan pertama sewaktu saya dan istri berlibur ke Pulau Lombok beberapa waktu yang lalu. Banyak yang sudah menulis tentang Pantai Senggigi terutama tentang keindahannya. Tapi dari hasil pengamatan saya, ternyata ada beberapa sisi negatif di balik indahnya pantai ini.


Perahu nelayan yang diparkir tidak rapi

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan adanya perahu nelayan di pantai ini. Malahan saya pikir itu bagus bisa jadi pelengkap keindahan Pantai Senggigi. Tapi yang saya sayangkan penataan perahu nelayan ini terkesan semerawut dan tidak rapi. Bahkan menutupi hampir selebar bibir pantai. Ditambah lagi tali pengikat perahu yang berserakan membuat saya tidak nyaman saat berjalan-jalan di pantai.



Sungai yang kotor

Ini merupakan hasil pengamatan saya langsung di lokasi. Saya melihat di situ ada aliran sungai kecil yang bermuara langsung ke Pantai Senggigi. Di sungai itu terlihat terjadi sendimentasi yang cukup parah sehingga menyebabkan air sebagian tertahan dan menimbulkan genangan.

Di atasnya terlihat ada "hiasan" sampah yang mengapung dan menimbulkan bau yang tidak sedap. Selain tidak sehat dan berbau tidak sedap, hal ini bisa jadi cerita minus bagi wisatawan terutama turis asing yang sekarang lagi trend-nya tema seputar kelestarian lingkungan hidup.



Pedagang kaki lima

Sebenarnya tidak ada salah juga dengan para pedagang yang berjualan. Tapi saya menyayangkan posisi dan letak lapak-lapak pedagang ini yang terlihat kurang rapi. Cara mereka membuat lapak dengan mengikatnya sembarangan di batang pohon dan pagar pembatas pantai itu terlihat seperti "asal tempel" istilahnya. Hal ini membuat pantai ini tidak sedap dipandang mata, bukan?



Pantai Komersil VS Pantai Umum

Saya sebenarnya agak kurang paham tentang Undang-undang Agraria. Apakah garis pantai termasuk fasilitas umum milik negara atau tanah yang bisa dikomersilkan untuk kepentingan swasta. Saya melihat ada sebagian dari garis pantai senggigi yang diberi pembatas oleh salah satu hotel berbintang yang ada di situ.

Setiap pengunjung yang bukan tamu hotel dilarang melintasi pembatas itu. Saya melihat perbedaan yang mencolok dari pantai di kedua sisi pembatas ini. Pantai yang menjadi milik hotel begitu rapi, bersih dan indah. Sedangkan pantai umum milik pemerintah begitu semerawut, kotor dan berantakan. Semoga hal ini bisa menjadi perhatian dari pemerintah daerah setempat.

Jalan masuk yang membingungkan

Sebenarnya alasan saya menjadikan pantai ini destinasi pertama karena pantai ini lokasinya dekat dengan hotel tempat kami menginap. Jadi kami pikir waktu itu tentunya mudah untuk menemukan lokasinya dan cocok  sebagai pemanasan sebelum kami pergi ke tempat wisata di selatan yang jaraknya lumayan jauh.

Tapi begitu kami sampai di Jalan Raya Pantai Senggigi, kami bingung di mana letak jalan masuk utamanya. Memang yang disebut pantai senggigi itu garis pantainya panjang. Tapi setidaknya ada semacam center point yang menandakan bahwa di sinilah pusatnya Pantai Senggigi. Hal ini bisa menjadi patokan bagi wisatawan yang akan mendatangi bagian lainnya dari pantai ini.


Terlepas dari beberapa kekurangan yang saya ceritakan di atas, pantai ini sebenarnya memang indah dan mempesona. Sebagai pencinta pantai saya berharap suatu saat nanti ketika saya kembali berkunjung ke pantai ini, sudah ada perubahan baik yang terjadi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Danau Sentani Dari Bukit Teletubbies

Jalan-jalan ke Perbatasan RI – Papua New Guinea

Gua Maria Bitauni, Tempat Ziarah Bergaya Klasik