Kali Dosai




Pada Bulan Desember lalu saya dan istri memanfaatkan waktu liburan Natal dan Tahun Baru dengan pergi mengunjungi Mertua di Kota Sentani, Jayapura. Dalam kunjungan kali ini jumlah kami bertambah dengan kehadiran putri kecil kami, Angela. Putri kami ini baru berumur 14 bulan. 

Dalam liburan ini saya berencana untuk mengenalkan kehidupan alam kepada Angela. Saya rasa Papua yang terkenal memiliki alam yang sangat bagus dan beragam merupakan tempat yang cocok bagi Angela untuk mengenal alam.

Menurut informasi dari keluarga, ada satu tempat bagus dan alami di Sentani. Namanya Kali Dosai. Letaknya ada di Desa Dosai, Distrik Sentani Barat, Kabupaten Jayapura, Papua. Untuk sampai ke sana dibutuhkan waktu sekitar 60 menit dari Distrik Sentani Pusat. 

Kami berangkat dari rumah mertua di Kelurahan Dobonsolo, Sentani pukul 11.00. Jalan yang kami lalui lumayan buruk. Banyak jalan berlubang dan kubangan air. Ada juga sungai yang tidak memiliki jembatan sehingga aliran airnya melewati badan jalan. Tapi secara umum jalan ini masih layak dan aman untuk dilalui.
Ketika kami tiba di Desa Dosai tidak ada petunjuk apapun tentang Kali Dosai. Tapi ada sebuah gereja di sebelah kanan jalan yang dapat dijadikan patokan. Persis disamping gereja itu ada jalan yang rata. Kami masuk ke jalan itu dan melewati beberapa rumah di Desa Dosai

Kira-kira 200 meter dari gereja itu, saya melihat seorang wanita paruh baya sedang berdiri di jalan sambil berusaha menahan setiap kendaraan yang lewat. Sampai tiba saatnya kami lewat wanita itu ternyenyum sambil berkata, “20.000 pak…”.  

Kata salah seorang keluargaku, uang itu untuk tuan tanah. Lalu kami meneruskan perjalanan menyusuri jalan tanah yang kurang rata. Sekitar 100 meter dari tempat wanita paruh baya tadi meminta uang, kami sampai di depan parkiran masuk Lokasi Wisata Kali Dosai. Sampai di sini kami dimintai lagi oleh seorang pemuda uang sebesar 25.000 katanya untuk uang parkir.



Selanjutnya kami masuk memarkirkan kendaraan dan memilih sebuah pondok yang nyaman tepat di pinggir kali. Pokdok ini terbuat dari kayu dan beratap seng serta berbentuk seperti rumah panggung. Di sini terdapat banyak pondok-pondok seperti ini. Tak lama kemudian datang lagi seorang pria tua meminta uang sebesar 250.000 untuk sewa pondok.   

Saya hanya bisa menggelengkan kepala sambil berpikir, beberapa orang di tempat ini kayaknya memanfaatkan betul situasi di tempat wisata ini. tapi saya mengamati tidak ada karcis atau tanda bukti bayar sama sekali. Tapi saya tidak mau berburuk sangka, mudah-mudahan semua uang yang didapat mereka tadi digunakan untuk pembangunan desa. 



Saya mencoba untuk melupakan kejadian ini sembari menikmati keindahan alam yang sudah terpampang dihadapan saya. Air yang mengalir di Kali Dosai ini bersumber langsung dari mata air Pegunungan Cyclop. Pegunungan Cyclop sudah lama ditetapkan pemerintah sebagai hutan lindung. 

Saya melihat airnya sangat jernih. Sampai-sampai saya bisa dengan mudah melihat dasarnya. Aneka bebatuan yang berada di tengah kali seakan menjadi hiasan yang menambah keindahan sungai ini. Hutan disekitar sungai ini terhat sangat lebat sehingga membuat hawa udaranya menjadi sejuk.



Saya mengajak Angela untuk masuk ke dalam sungai dan berenang. Ini merupakan pengalaman pertama bagi Angela merasakan air yang langsung dari alam. Saya melihatnya agak kurang nyaman dan berteriak sambil sesekali menangis. Saya pikir mungkin ini salah satu cara dia "menikmati" alam.



Begitu kaki saya menyentuh air, terasa air ini begitu dingin. Memang terasa beda sekali dengan air PDAM yang biasa saya pakai untuk mandi di rumah. Dapat dipastikan air ini masih bersih karena dari Kali Dosai ini ke arah hulu sungai tidak ada lagi penduduk ataupun lahan pertanian. 

Wajar saja saya merasakan air ini begitu segar ketika mengenai wajah saya. Mungkin tulisan saya ini terkesan lebay, tapi untuk saya dan mungkin juga anda yang biasa menikmati air di kota yang sudah mulai tercemar, situasi seperti ini sangatlah istimewa tentunya.   



Hidup ini memang mudah. Nikmati saja apa yang Tuhan sudah sediakan bagi kita. Dan tugas utama kita adalah menjaganya. Jaga dan rawatlah sama seperti engkau menjaga dan merawat tubuhmu sendiri. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Danau Sentani Dari Bukit Teletubbies

Jalan-jalan ke Perbatasan RI – Papua New Guinea

Gua Maria Bitauni, Tempat Ziarah Bergaya Klasik