Sam Poo Kong

Semarang menjadi salah satu kota multietnis di Indonesia. Di kota ini terdapat beragam suku budaya yang tinggal berdampingan dengan damai, salah satunya Etnis Tionghoa. Maka tidak mengherankan terdapat banyak bangunan berarsitektur mandarin yang sudah ada sejak jaman dulu di Semarang. 

Bangunan bergaya mandarin itu sebagian besar merupakan tempat ibadah berupa klenteng. Nah dalam petualangan saya kali ini di Semarang, saya mengunjungi salah satu klenteng paling populer yang bernama Sam Poo Kong. Klenteng ini letaknya di daerah Simongan sebelah barat daya Kota Semarang. 


Untuk sampai ke sini dari pusat kota semarang yang paling mudah dengan menggunakan taksi. Dibutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke klenteng yang bernama lain Gedong Batu ini. Untuk masuk ke Klenteng Sam Poo Kong pengunjung hanya dikenakan tiket masuk sebesar Rp.3.000 saja. 

Suasana klenteng pada hari biasa relatif sepi. Tapi pada saat hari besar keagamaan khususnya pada sekitar bulan Agustus, klenteng ini sangat ramai dengan pengunjung. Pada bulan Agustus selalu diadakan perayaan tahunan memperingati kedatangan Laksamana Cheng Ho atau Sam Po Tay Djien. Perayaan ini menjadi kalender pariwisata utama Kota Semarang.

Menurut cerita, klenteng ini dahulu menjadi persinggahan Laksamana Cheng Ho saat berlayar melintasi laut Jawa.  Pada saat berlayar itu banyak awak kapal yang jatuh sakit. Akhirnya Cheng Ho memutuskan untuk mendarat di Semarang, persis di tempat yang sekarang bernama samongan. Sebagian dari awak kapalnya kawin dengan warga lokal dan berkembang hingga saat ini.



Menurut cerita lagi, awalnya Cheng Ho bernama asli Zheng He. Karena kedekatannya dengan Kaisar maka diangkat menjadi Thai Kam dengan gelar Sam Poo. Sejal itu Zheng He lebih dikenal dengan sebutan Sam Poo Thai Kam karenanya Zheng He juga sering disebut sebagai Sam Poo Tay Dijen atau Sam Poo Tao Lang yang berarti orang besar.


Kompleks klenteng ini terdiri atas sejumlah anjungan yaitu Klenteng Besar, Gua Sam Poo Kong, Klenteng Tho Tee Kong, dan empat tempat pemujaan (Kyai Juru Mudi, Kyai Jangkar, Kyai Cundrik Bumi, dan Kyai Tumpeng). Klenteng Besar dan Gua merupakan pusat seluruh kegiatan pemujaan.

Tempat-tempat pemujaan itu dinamai sesuai dengan peruntukannya. Klenteng Tho Tee Kong merupakan tempat pemujaan Dewa Bumi, Kyai Juru Mudi digunakan sebagai tempat pemujaan juru mudi kapal yang membawa Laksamana Cheng Ho. Kyai Jangkar sebagai tempat disimpanya jangkar kapal, Kyai Cundrik Bumi dulunya sebagai tempat penyimpanan senjata. Kyai Tumpeng sebagai tempat yang dulunya menyimpan persediaan bahan makanan. Karena tempat-tempat ini dibangun dengan tujuan sebagai tempat ibadah, maka tidak semua bangunan dapat dimasuki oleh pengunjung. Hanya orang yang ingin sembahyang saja yang boleh masuk.    

Yang unik dari tempat ini karena di dalamnya terdapat sebuah patung Sam Poo Kong berlapis emas yang dijadikan pusat pemujaan dan ziarah oleh umat Konghucu. Menurut kepercayaan Konghucu, orang yang berjasa yang telah meninggal dapat dijadikan sosok yang dipuja. Padahal Laksamana Cheng Ho sendiri adalah seorang muslim. Tapi inilah contoh akulturasi budaya yang ada di Indonesia.



Klenteng yang bernuansa merah ini terasa begitu sejuk di beberapa tempat. Penataan pohon-pohon yang rindang membuat pengunjung dapat lebih santai menikmati keindahan klenteng. Berada disini saya merasa seperti ada di film-film kungfu mandarin yang sempat populer di awal tahun 2000-an.

Gambar lain dari Klenteng Sam Po Kong :





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Kerbau dan Emas Dalam Pernikahan Adat : Cerita Dari Nagekeo

Melihat Danau Sentani Dari Bukit Teletubbies

Kali Dosai