Petualangan di Negeri Serumpun


3 hari kami menghabiskan liburan di Singapura, saatnya melanjutkan petualangan kami di negeri tetangga serumpun, Malaysia! 

Setelah melewati kira-kira 10 stasiun akhirnya kami tiba di Woodland, daerah paling utara di Singapura yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Kami keluar dari stasiun dan melanjutkan dengan bis no. 950 menuju Johor Baru Central.

Saat itu di terminal banyak juga yang menunggu bis yang sama dengan kami. Saya coba bertanya ke salah satu orang disitu untuk memastikan bis yang akan kami akan naiki benar. Saat itu waktu menunjukan pukul 10 malam, bis yang kami tunggu pun tiba.

Sampai di Johor Baru Central (JB Sentral), kami langsung mengurus imigrasi. Setelah itu kami menuju loket penjualan tiket kereta untuk membeli tiket kereta Senandung sutra.

Loket pembelian tiket kereta

Tips: jika kita akan melanjutkan perjalan dari Singapura munuju ke Malaysia via kereta api, sebaiknya beli tiketnya di Johor baru. Harga tiketnya sebenarnya sama. Tapi kalau kita beli di Singapura kita harus pakai kurs mata uang Singapura. 
Sedangkan kalau kita beli di Johor baru kita bisa menggunakan mata uang Ringgit Malaysia. Setelah dihitung memang selisihnya lumayan jauh. Lumayan banget buat para backpaker untuk menghemat ongkos.

Waktun itu kami kurang beruntung untuk mendapat tiket Sleeper (tiket dengan tempat tidur), akhirnya kami beli tiket tempat duduk biasa. Harga tiketnya 33RM/orang.

Tips: karena tiket kereta hanya bisa dibeli untuk pemberangkatan hari itu juga, jadi kalau kita mau mendapat tiket sleeper, sebaiknya kita beli secara online pada pagi harinya.

Kereta ini dari penampakannya lumayan sudah tua, tapi kondisinya masih bagus. Bersih, rapi, teratur, dan nyaman, seperti itulah penilaian kami. Tak berapa lama kami menunggu, akhirnya kereta kamipun mulai jalan.

Suasana di dalam Kereta Senandung Sutra


Saat itu waktu menunjukan pukul 12.10, rasanya perut kami mulai lapar lagi. Kami pun mengeluarkan persediaan makanan kami (Mie dalam kemasan) yang air panasnya dibeli di pantri seharga 1RM/gelas.

Kereta kami tiba di Kuala Lumpur Central (KLC) jam 7.30. Kami langsung mencari bilik mandi (tempat mandi yang di sediakan oleh KLC, biasanya untuk para wisatawan. Tempatnya di belakang dekat loket penjualan tiket kereta.

Lumayann  bagus dan bersih, kamar mandi dengan fasilitas air panas dan ruang ganti baju yang rapi. Untuk menggunakan bilik mandi kita harus membayar 5 RM/orang. Disediakan pula penyewaan handuk dan seterika.

Setelah mandi kami menuju ruang loker penitipan barang untuk meletakan sebagian barang bawaan kami. Ada pilihan ukuran loker sesuai kebutuhan kita. Kami pilih loker yang berharga sewa 5 RM. Setelah itu ke KFC untuk sarapan.

Selanjutnya kami langsung menuju loket penjualan tiket kereta. Tujuan pertama kami sebenarnya ke Putra Jaya (pusat pemerintahannya Malaysia). Tapi kami agak bingung karena ternyata untuk menuju ke sana hanya ada satu kereta yang melayani yaitu KLIA Expres. Lagian harga tiketnya lumayan mahal sekitar 18 RM/orang.

Kami pikir kalau hanya ingin melihat gedung-gedung saja sih nga ada istimewanya. Jadi kami putuskan langsung saja ke menara kembar Petronas. Salah satu ikon kebanggaan masyarakat Malaysia. Kami membeli tiket MRT biasa seharga 3 RM/orang.

Kondisi tranportasi di Malaysia jauh berbeda dari Singapura. Ada beberapa pintu pembatas perlintasan kereta yang rusak, ruang tunggunya juga kurang rapi agak kotor dan sedikit sekali petunjuk penjelasan mengenai MRT. 

Budaya naik MRT juga berbeda dengan di Singapura. Mungkin karena daya tampungnya juga masih terbatas, jadi pas jam-jam sibuk penumpang dimuat seperti kayu bakar. 

Kita berdiri berhimpitan dalam gerbong yang memang lebih pendek dari MRT di Singapura. Tapi setidaknya ini lebih layak dan modernlah dari pada di Indonesia.

Seperti juga di Singapura, MRT yang kami tumpangi saat itu juga keluar di stasiun dalam sebuah mall. Setelah kami keluar baru kami tahu bahwa bangunan ini sebenarnya tepat berada di bawah menara kembar Petronas.

Taman Petronas

Di belakang gedung ini ada sebuah taman yang kami pikir pas untuk mendapatkan view terbaik Petronas. Tamannya bagus, tertata rapi dan luas sekali. Ditengahnya ada kolam air mancurnya yang pancuran airnya bisa berubah-ubah bentuk dan formasi. Taman saat itu sedang ramai dengan berbagai pertujukan mulai dari konser music sampai pameran motor gede.

Menara Kembar Petronas

Sungguh bangga warga Malaysia memiliki Menara Petronas. Gedung ini sempat menjadi bangunan tertinggi di dunia. Bangunan ini terdiri dari dua menara yang benar-benar mirip. Keduanya dihubungkan dengan satu jembatan kaca ditengahnya. Mayoritas dindingnya terbuat dari kaca.

Cuaca saat itu lumayan panas. Kami putuskan masuk kembali kedalam mall untuk menuju ke stasiun MRT. Tujuan kami selanjutnya yaitu Bukit Bintang. Tempat ini lebih mirip Orchad roadnya Malaysia. 

Sebenarnya tujuan utama kami di sini juga untuk mengunjungi salah satu restoran yang menurut hasil penelusuran kami banyak yang riviewnya menggoda untuk dicoba. 

Setelah bertanya kesana-sini akhirnya kami tiba di Restoran Nasi Ayam Chee Meng. Sesuai dengan namanya, menu unggulan disini adalah Nasi Ayam. 

Suasana di Restoran Nasi Ayam Chee Meng 


Seporsi Nasi Ayam Chee Meng


But hmmnn... underestimated! Ya..setidaknya begitulah penilaian kami atas makanan ini. Ayamnya cuma direbus biasa dan diberi saos asin trus dikasi pelengkap nasi putih. Tapi lumayanlah untuk menu makan siang.

Tempat restoran itu masuk ke dalam wilayah Bukit Bintang. Deretan toko yang mayoritas dimiliki etnis india berjejer dengan rapi. Di jantung Bukit Bintang terlihat mall-mall megah yang menjual berbagai merk terkenal. 

Deretan toko yang pemiliknya mayoritas Etnis India

Salah satu persimpangan di jantung Bukit Bintang


Terlihat mayoritas yang mengujungi tempat ini adalah anak muda. So far begitulah gambaran Bukit Bintang yang katanya merupakan pusat bisnisnya Kuala Lumpur.

Selanjutnya kami sedikit berkeliling kota menggunakan MRT. Suasana kota Kuala lumpur hampir tak jauh beda dengan Jakarta. Dibeberapa sudut kota terlihat banyak bangunan pencakar langit. Disisi lainnya terdapat perkampungan kumuh. Itulah gambaran pembangunan yang tidak merata. 

Selanjunya kami putuskan untuk kembali ke Menara Petronas yang katanya pemandangan malamnya lebih indah daripada siang. Sebelum kembali ke taman, kami putuskan untuk makan malam dulu di sebuah restoran. 

Restoran Nandos

Menurut riview yang kami baca, Restoran Nandos ini merupakan franchise dari negara asalnya yaitu afrika selatan. Menu yang istimewa disini menurut salah satu pelayan yang kami tanya yaitu Ayam panggang ala afrika. 

Seporsi Ayam Panggang ala Afrika

Jadi beginilah penampakannya yang terlihat di gambar. Porsinya gede banget. Saya dan istri punya firasat sebaiknya kita pesan satu menu dulu dan minuman, baru kita lihat seberapa besar porsinya. Walah...ternyata porsinya pas untuk berdua. 

Yang spesial disini juga sambalnya yang handmade dan sudah dijual bebas di supermarket di Indonesia. Kali ini wiskun kami nga gagal. Ini maknyusss...! Ayamnya lembut, bumbunya meresap sampai ke tulang, dan sambalnya aduhai pedaassss....mantaaap!

Setelah selesai makan, kami bejalan keluar sambil menyusuri beberapa sudut mall yang tampak semakin ramai. Ditengah jalan ada sesuatu yang mencuri perhatian kami. Tampak ada antrian yang panjang sekali disebuah outlet makanan. Tanpa tahu apa yang dijual, karena penasaran saya pun ikut antri.

Ternyata ini adalah sebuah outlet pop corn dengan merk Garret. Eits... ini bukan pop corn biasa loh. Pop corn yang biasa kita temukan mempunyai rasa hanya asin dan karamel, nah kalau yang ini rasanya lebih banyak dan beragam. 

Outlet Pop Corn Garret

Kemasan Pop Corn Garret dengan bebagai motif

Ada 8 jenis rasa yang tersedia, antara lain: GarretMix, CaramelCrips, CheesCorn, Buttery, Almond CaramelCrips, Cashew CaramelCrips, Macadamia CaramelCrips, Pecan CaramelCrips. Uniknya lagi selain bentuk kemasannya yang mirip tong cat, motif kemasannya juga beragam bahkah bisa berganti setiap ada tema yang lagi happening saat itu. Kami akhirnya membeli ukuran 2 galon rasa GarretMix seharga $58.

Setelah itu kami ke taman dan duduk menikmati malam yang indah di Malaysia sambil memandang menara Petronas yang menakjubkan.  Sampailah kami dipenghujung liburan yang panjang di Singapura dan Malaysia. Berbagai pengalaman dan petualangan yang panjang dan unik tersimpa rapi dalam memori kami berdua selamanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Kerbau dan Emas Dalam Pernikahan Adat : Cerita Dari Nagekeo

Melihat Danau Sentani Dari Bukit Teletubbies

Kali Dosai