Masak Dan Makan Bersama : Cerita Dari Nagekeo

Pagi itu saya bersiap untuk pergi ke sebuah acara keluarga. Informasi yang saya terima, acara itu diselenggarakan di Kampung Tiwa, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, Propinsi NTT. Saya pergi bersama salah satu tetua adat di suku kami.

Kampung Tiwa, Nagekeo, Flores NTT

Sebelumnya saya ingin mejelaskan dulu latar belakang saya. Ayah saya berasal dari Suku Nagekeo, Sub Suku Ebu Raga. Nama Ebu Raga adalah nama nenek moyang suku kami sedangkan Nagekeo merupakan suku induk induknya. Suku Nagekeo menjadi mayoritas suku di Kabupaten Nagekeo. 

Ayah sudah tidak menetap di kampung sejak masih muda karena urusan sekolah dan kerjaan. Tapi ayah masih punya hak waris dan hak adat yang terjaga dengan baik di kampung ini. Saya sebagai anak laki-laki satu-satunya punya tanggungjawab untuk meneruskan tongkat estafet warisan dan adat yang telah digariskan oleh leluhur kami. 

Itulah ulasan singkat tentang latar belakang saya. Nah karena saya bukan seorang antropolog, jadi apa yang saya tulis di artikel ini dan artikel setelah ini yang berkaitan dengan Nagekeo dan Flores pada umumnya saya pastikan berasal dari pengalaman pribadi dan sumber asli penduduknya.

Kembali ke cerita utama diatas diatas. Jadi acara yang saya ikuti ini adalah acara antar belis atau umumnya disebut mas kawin. Tentunya acara ini diselenggarakan di rumah wanita. Waktu menunjukan pukul 8 saya bergegas menggunakan sepeda motor untuk naik ke atas kampung. Ya, Kampung Tiwa letaknya memang diatas sebuah bukit.

Sesampainya disana, terlihat suasana sudah tampak ramai dengan keluarga yang sebenarnya sudah berkumpul dari hari kemarin. Banyak orang yang terlibat dalam acara ini. Masing-masing diberi tugas oleh panitia. 

Budaya gotong royong masih terjaga dengan baik di sini. Sang tuan acara bisa jadi menjadi orang yang paling santai saat acara. Jika semua bahan sudah tersedia, maka keluargalah yang akan bekerja. Hal ini berlaku untuk semua acara dalam keluarga.

Saya sebenarnya mendapat tugas membagikan rokok. Tapi karena saat itu belum ada yang mengurusi dokumentasi jadi saya yang mengambil alih tugas itu. Biasanya pekerjaan yang paling rumit dan membutuhkan banyak orang adalah urusan dapur.

Dapur tempat memasak daging kerbau dan sapi

Pagi-pagi sekali panitia dapur sudah berjibaku menyiapkan sarapan untuk keluarga dan panitia lainnya. Saya sempat kaget ketika melihat menu sarapan kami. Ada lauk daging sapi dan 1 jenis sayuran. Jangan dipikir daging sapi kiloan yang dibeli di pasar ya... Ini sapi asli utuh yang baru disebelih pagi ini. Makanya saya tadi menggunakan kata "berjibaku".

Akhirnya saya pun makan ditemani secangkir kopi hangat pas disaat udara yang masih dingin saat itu. Selesai sarapan saya mulai berkeliling di tempat acara untuk mulai memotret. Saya sempat heran ternyata ada tiga dapur yang dipersiapkan untuk acara ini. 

Dapur tempat memasak nasi

Proses mencincang daging

Dapur untuk memasak nasi, dapur untuk memasak daging bagi keluarga wanita, dan dapur untuk memasak daging bagi keluarga pria. Yang terakhir kedengarannya aneh bukan. Tapi yang lebih aneh lagi, keluarga pria hanya diperbolehkan makan daging babi atau kambing serta dimasak sendiri oleh utusan dari pihak keluarga pria yang mereka sudah tentukan sebelumnya. 

Katanya pamali jika kita memakan apa yang kita sudah berikan. Jadi pada acara antar belis ini pihak pria akan menyerahkan mas kawin berupa kerbau dan sapi sedangkan pihak perempuan akan memberi balasan berupa babi. Jadi seperti itulah kira-kira aturannya yang saya ketahui.

Bagi saya justru acara makan ini yang seru. Ketika acara utama dimulai, maka dimulailah pembantaian berikutnya yang lebih besar yaitu kerbau dan sapi. Saya melihat diatas naja (tempat pondok dari bambu) yang penuh dengan daging. Terlihat beberapa keluarga sibuk mencincang setiap daging menjadi potongan yang lebih kecil. 

Yang menarik kita dengan bebas memanggang sendiri dan menikmati beberapa potong daging itu sepuasnya yang kita mampu. Tetap dengan batasan malu yang kita miliki juga ya... Dengan disertai obrolan santai dan canda gurau, pekerjaan yang terlihat rumit jadinya enjoy dan mudah. Itulah kearifan lokal Nagekeo yang sangat jarang saya temui di kota.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Danau Sentani Dari Bukit Teletubbies

Jalan-jalan ke Perbatasan RI – Papua New Guinea

Gua Maria Bitauni, Tempat Ziarah Bergaya Klasik