Matrilineal dari Tanah Timor



Selama ini kita mengenal budaya matrilineal yang terkenal di Indonesia hanya ada di Minangkabau, Sumatera Barat. Padahal sebenarnya ada lagi yang lainnya loh. Di Propinsi Nusa Tenggara Timur ada dua daerah yang menganut budaya matrilineal yaitu Bajawa dan Malaka. 

Bajawa letaknya di Kabupaten Ngada, Pulau Flores sedangkan Kabupaten Malaka terletak di Pulau Timor. Nah kebetulan saya berkesempatan mengunjungi Kabupaten Malaka pada awal Agustus 2016 lalu. Pada saat itu kebetulan ada keluarga kami yang meninggal di sana dan saya pergi bersama rombongan untuk melayat.

Sebelumnya saya ingin share dulu apa itu Matrilineal berdasarkan wikipedia. Matrilineal adalah suatu adat masyarakat yang mengatur alur keturunan berasal dari pihak ibu. Kata ini seringkali disamakan dengan matriarkhat atau matriarkhi, meskipun pada dasarnya artinya berbeda. Matrilineal berasal dari dua kata bahasa Latin, yaitu mater yang berarti ibu, dan linea yang berarti garis. 

Jadi, matrilineal berarti mengikuti garis keturunan yang ditarik dari pihak ibu. Sementara itu matriarkhat berasal dari dua kata bahasa Yunani, yaitu mater yang berarti ibu, dan archein yang berarti memerintah. Jadi, matriarkhi berarti kekuasaan berada di tangan ibu atau pihak perempuan.

Kami harus menempuh perjalanan 6 jam untuk sampai ke kabupaten yang namanya mirip dengan salah satu negara bagian di Malaysia. Rute yang harus kami lalui juga sangat sulit. Kami harus melalui jalan yang berliak-liuk, banyak tanjakan panjang dan ada 16 Km jalan yang belum diaspal alias off road.

Yang lebih mengerikan lagi, kami harus melewati 2 sungai yang jembatannya rusak. Sehingga kami harus lewat di tengah sungai yang saat itu airnya lagi sedikit. Menurut sopir yang mengendarai mobil, jika terjadi banjir maka kita harus menunggu beberapa jam sampai airnya surut baru bisa dilalui.

Tapi perajalanan yang panjang seperti tak terasa karena di sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan yang indah. Mulai dari bukit sabana khas NTT, hutan jati dan pinus gurun, pantai Kolbano yang eksotis, dan perbukitan nan hijau. 

Sesampainya di sana kami singgah dulu di kampung tetangga yang tidak jauh dari kampung tujuan kami. Mulai dari sini nuansa Matrilineal sudah mulai terasa. Bagitu masuk kampung kami langsung diterima dengan hangat oleh beberapa ibu-ibu paruh baya. Mereka menjamu kami dengan makanan dan minuman. Dari mereka, kami baru mengerti ternyata kami memang harus diantar secara adat oleh mereka menuju ke  kampung yang berduka.

Ada satu fenomena unik yang saya alami disini. Sejak kami datang ke kampung itu tak terlihat satupun pria yang menghampiri kami bahkan sekedar berjabat tangat atau ngobrol. Mereka terlihat asik ngobrol di salah satu rumah yang tak jauh dari tempat kami duduk. Ketika kami lewat, mereka hanya sekedar menyapa sederhana alia say hello.. dan melambaikan tangan sambil tersenyum.

Semua pria di situ statusnya cuma dua disini yaitu anak kandung dan anak mantu. Para pria itu memang biasanya hanya menerima tamu dari keluaraga atau rekan karja mereka. Keturunan laki-laki tidak mendapat hak apapun atas warisan orang tua.

Ketika saya menyaksikan acara pemakanan, terlihat para wanita bertugas untuk beberapa ritual penting sebelum penguburan seperti merias jenasah, menyemayamkan jenazah di rumah adat, memutuskan lokasi penguburan dan menerima tamu yang datang melayat.

Prosesi perarakan jenazah oleh keluarga yang dilakukan dari rumah adat Malaka

Memang ada hal-hal tertentu yang masih ditangani langsung oleh para pria seperti mengangkat peti, menggali kubur dan memimpin upacara penguburan. Jika yang meninggal laki-laki (mantu) maka sebelum memulai acara penguburan, semua anak dan keluarga akan meminta ijin dan menjalani ritual adat di kampung asal sang lelaki.

Dalam ritual itu keluarga di kampung asal akan dengan bebas memilih salah satu anak yang akan mengganti posisi yang meninggal (status ayah) di keluarga asal. Sehingga jika ada acara adat atau hajatan di kampung asal, anak ini juga boleh terlibat secara langsung. Adat ini dinamakan mata musang. 

Perarakan peti jenazah diiringi oleh semua keturunan dari yang berduka. Di mulai dari cucu tertua dan diikuti anak-anak sampai yang tertua. Sebelum jenazah dikuburkan, harus melalui sebuah ritual dulu di rumah adat perempuan (status istri) yang di pimpin oleh seorang pemangku adat perempuan. 

Rumah adat Malaka

Rumah adat orang Malaka terbilang unik. Berbentuk persegi panjang dan memiliki tiga pintu. Satu pintu di depan dan dua di samping kiri dan kanan. Pintu utama di depan berfungsi untuk keluar masuk utama semua aktifitas. Semua yang berkaitan dengan kegiatan di dapur melewati pintu bagian kiri. Pintu bagian kanan walaupun bentuknya seperti pintu tapi pintu ini tidak akan pernah dibuka selama rumah ini berdiri. Menurut adat pintu ini menjadi jalan keluar masuk bagi roh nenek moyang yang telah meninggal.

Rumah adat Malaka

Kami bermalam di salah satu tetangga yang berdekatan dengan rumah duka. Sebuah pengalaman yang berharga buat saya pribadi bisa merasakan budaya yang unik ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Danau Sentani Dari Bukit Teletubbies

Jalan-jalan ke Perbatasan RI – Papua New Guinea

Gua Maria Bitauni, Tempat Ziarah Bergaya Klasik