Wisata Mendadak Ke Semarang

Saya dan istri melakukan sebuah perjalanan wisata mendadak ke Semarang. Sebenarnya yang menjadi tujuan kami waktu itu adalah Karimun Jawa. Tapi karena waktu itu di Jepara (Pelabuhan Penyebrangan Kartini) cuacanya sedang buruk jadi kami tidak bisa menyebrang ke sana. Padahal kami sudah coba bertahan selama 2 hari untuk sebuah harapan cuaca akan membaik. Tapi keberuntungan tak berpihak pada kami saat itu.

Alhasil daripada pulang dengan tangan kosong, kami berpikir untuk mengalihkan rencana liburan kami. Ternyata penting juga bagi kita untuk mempersiapkan plan b pada setiap liburan kita. Akhirnya setelah berdiskusi cukup alot dengan istri, kami putuskan untuk melanjutkan liburan ke Kota Semarang. 

Perjalanan dari Jepara ke Semarang ditempuh dalam waktu 60 menit menggunakan bis antar kota. Sesampainya di Semarang kami langsung menuju ke hotel yang sudah kami pesan via pegipegi.com. Sambil beristirahat kami membuat itinerary alias rencana perjalanan yang baru. Kota lama Semarang salah satu destinasi wisata yang masuk dalam daftar itinerary kami itu. 

Salah satu alasan kenapa kami memilih Kota Lama Semarang sebagai salah satu tujuan wisata kami sederhana saja. Karena di kota kami (Kupang) tidak ada kota lama atau bangunan bergaya kolonial. Selain itu sesekali wisata bertema sejarah ga ada salahnya untuk dicoba. Keuntungan lainnya, katanya kalau berselfie di bangunan jadul itu sensasinya akan beda.

Halte Letjen Suprapto yang dibangun di depan sebuah bangunan tua di Kota Lama Semarang

Ada beberapa alternatif transportasi menuju ke kawasan kota lama. Ada bis Trans Semarang, taksi, becak, dan ojek. Saya memilih naik bis Trans Semarang dan turun di halte Letjen Suprapto.

Saat turun di halte itu suasana jaman Kolonial Belanda sudah mulai terasa. Banyak bangunan bergaya Eropa tahun 1800-an ada di sini. Beberapa masih terawat dengan sangat baik dan digunakan hingga saat ini.

Suasana di salah satu sudut jalan Kota Lama Semarang

Secara geografis, letak kota ini agak terpisah dari daerah sekitarnya sehingga tampak seperti kota sendiri. Karena itu pula kota ini diberi julukan "Little Netherland". Daerah ini dulunya merupakan pusat perdagangan yang ramai. 

Lokasinya strategis berada di dekat Stasiun Kereta Tawang dan Pelabuhan lama Semarang membuatnya mudah diakses oleh siapa saja saat itu. Kebanyakan bangunan di sini memiliki warna yang kalem seperti putih dan biru muda. Setiap bangunan memiliki ceritanya masing-masing.

Gereja Blenduk salah satu landmark Kota Semarang


Salah satu yang menjadi landmark Kota Semarang adalah Gereja Blenduk. Gereja ini dibangun pada tahun 1753. Dilihat dari arsitekturnya, bangunan ini pasti tergolong mewah saat itu. Berwarna mayoritas putih, gereja ini masih kokoh berdiri hingga saat ini. Bahkah saya sendiri tidak percaya kalau bangunan ini sudah berumur 200 tahun.

Taman di depan Gereja Blenduk


Di depan gereja ada sebuah taman tempat kita bisa duduk beristirahat melepas lelah sambil menikmati keindahan gereja ini. Rasanya baru berjalan sekitar 15 menit tapi kaki rasanya sudah pegel banget.

Sebenarnya kita bisa naik becak untuk berkeliling di Kota Lama. Tapi saya pikir waktu itu kalau emang niatnya buat foto-foto, kayaknya tidak leluasa kalau kita menggunakan kendaraan.

Beranjak ke sisi lainnya dari kota lama saya menemukan beberapa bangunan yang saat ini sudah dialihfungsikan menjadi bangunan perkantoran. Ada gedung Asuransi Jiwa Sraya, kantor Pos Indonesia, kantor pengacara, PT. Pelni, Bank Mandiri, Bank Ekport Impor, dll. Ada juga beberapa bangunan tua yang tidak jelas fungsinya apa tapi masih terawat dengan baik.

Kantor Pos Kota Lama Semarang

Kantor Jiwa Sraya Kota Lama Semarang

Tidak semua lokasi bisa kami datangi saat itu. Karena selain kota lama ini luas sekali (kira-kira 13 hektar), kami juga harus berhemat tenaga untuk destinasi lainnya di Semarang.

Berkat perjalanan ini, saya baru tahu ternyata cerita tentang Belanda itu tidak semuanya menjengkelkan. Masih ada jejak peninggalannya yang bisa kita nikmati hingga saat ini. Salah satu contohnya Kota Lama Semarang ini!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Danau Sentani Dari Bukit Teletubbies

Jalan-jalan ke Perbatasan RI – Papua New Guinea

Gua Maria Bitauni, Tempat Ziarah Bergaya Klasik