Taman Doa Di Tanah Gersang

Waktu ada keluarga yang datang dari Jawa beberapa waktu yang lalu, saya berinisiatif mengajak mereka ke Taman Doa Yesus Maria Oebelo. Salah satu taman doa yang cukup populer di Kota Kupang. 

Berlokasi sekitar 15 km dari jantung kota Kupang, Taman Doa Yesus Maria berdiri kokoh di atas bukit yang berhadapan langsung dengan Teluk Kupang. Butuh waktu sekitar 40 menit untuk sampai ke taman yang disebut juga taman ziarah  ini.

Titik persimpangan antara jalan kemuliaan dan jalan kesedihan

Taman doa ini diresmikan pada hari Senin, tanggal 25 Nopember 2013 oleh Kardinal Stanislaw Rylco dari Tahkta Suci Roma, Italy. Waktu itu sekitar 30.000-40.000-an umat katolik memadati seluruh area taman.

Perjalanan ke Taman Doa ini sangat mudah. Kita hanya perlu mengikuti jalan raya Kupang menuju Atambua sampai pada tempat dimana banyak penjual garam tradisional. Nah sampai disitu sudah terlihat papan besar petunjuk jalan masuk ada di sebelah kanan jalan.

Saya dan keluarga tiba di lokasi tepat jam 9 pagi. Waktu yang saya pikir tepat karena suhu di sekitar taman belum terlalu panas. Lokasi parkir sebenarnya ada di bawah bukit sehingga kita harus berjalan kaki lagi untuk sampai ke puncak bukit. Tapi karena petugas yang berjaga melihat ada salah satu anggota keluarga kami yang cacat sehingga saya diperbolehkan masuk sampai ke bangunan sekretariat taman doa.

Sampai di bangunan ini kita masih harus berjalan kaki lumayan jauh untuk sampai ke pusat taman doa. Kebetulan disini ada fasilitas mobil pengantar yang disediakan untuk orang cacat dan manula. Saya dan ayah memilih berjalan kaki sambil menikmati pemandangan sedangkan keluarga yang lain menumpang kendaraan ini.

Taman ziarah ini berada pada suatu titik yang istimewa. Istimewanya karena tempat ini tepat berdiri di tengah lahan yang benar-benar tandus. Diluar taman ini hanya ada dua tumbuhan yaitu pohon duri dan pohon lontar. Itupun jaraknya berjauhan sepertinya masing-masing dari pohon-pohon itu punya masalah pribadi. Hmmn...

Suasana di luar taman doa

Kondisi ini berbeda 180 derajat dari yang terlihat di dalam taman. Terdapat beberapa pohon yang berjejer rapi di tepi jalan yang memberi sedikit kesejukan ditengah cuaca yang ternyata sudah mulai terasa panas. Terlihat berbagai jenis bunga yang tertata rapi di beberapa sudut taman. Ada juga 1 Pohon Bringin besar yang tentunya saya pikir ajaib bisa hidup di tempat segersang ini.

Beberapa pohon yang terjaga dengan baik di dalam taman

Taman ini berpusat pada satu kapela yang tepat berdiri di tengah bukit. Kapela yang diberi nama St. John Paul II ini memiliki tiga lantai yang terhubung dengan tangga yang terletak di bagian belakang gedung. Tempat duduk kapela ini dibangun bertingkat seperti stadion dan ditengahnya terdapat sebuah altar.

Pusat Taman Doa Yesus Maria Oebelo

Untuk sampai ke kapela ini kita bisa melalui 2 jalur. Kedua jalur ini memiliki maknanya tersendiri. Jalur pertama yang merupakan jalur utama menggambarkan jalan kemuliaan dan kegembiraan Tuhan. Sedangkan jalur kedua menggambarkan kisah sedih Yesus.

Salah satu tempat doa pada jalan kemuliaan

Pada Jalan kemuliaan dan kegembiraan terdapat beberapan tempat pemberhentian untuk berdoa. Masing-masing tempat doa mewakili setiap Paroki yang terdapat di wilayah Keuskupan Kupang. Pada jalan kesedihan terdapat beberapa tempat pemberhentian untuk berdoa yang masing-masingnya menggambarkan Jalan Salib Yesus.

Saya merasakan ketenangan yang luar biasa di tempat ini. Lokasinya yang benar-benar jauh dari perumahan warga dan jalan raya serta ditengah padang sabana yang membuat hanya suara desahan angin yang terdengar. 

Ketika saya berdiri tepat di ujung atas balkon lantai tiga Kapela St. John Paul II, terlihat pemandangan yang lebih menakjubkan. Dari atas sini terlihat pantai-pantai disekitar teluk kupang yang indah. Terlihat juga hamparan sawah yang luas di Kelurahan Tarus yang merupakan daerah subur.


Kapela St. John Paul II

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melihat Danau Sentani Dari Bukit Teletubbies

Jalan-jalan ke Perbatasan RI – Papua New Guinea

Gua Maria Bitauni, Tempat Ziarah Bergaya Klasik